O W N E D

FOLLOW DBOARD



© Template by AtiqahJaidin
Image from TUMBLR | WHI
Sollu 'alan Nabi

bismillahirramanirrahim,

Ada sebuah kisah, tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta yang dicontohkan Allah dalam kehidupan Rasul-nya.

Pada pagi itu, walaupun langit sudah mulai menguning, burung-2 gurun enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas, memberikan khutbah,

"Wahai umatku.. kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taatilah dan bertaqwalah kepada-Nya.." 
"Kuwariskan dua perkara kepada kalian, Al-Quran dan Sunnahku.."
"Barang siapa yg mencintai sunnahku, bererti mencintai aku, dan kelak orang yg mencintaku, akan masuk syurga bersama-sama aku"

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepalanya dalam dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba. 

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua"

Keluh hati semua sahabat ketika itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-2 itu semakin kuat. Ali dan Fadhal cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan gopah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. 

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-2 dari luar pintu, terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 

"Bolehkan saya masuk" Tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. "Maaflah ayahku sedang demam" Kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu. Kemudian dia kembali menemui ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah. "Siapakah itu wahai anakku?" 

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru kali ini aku melihatnya," Tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," Kata Rasulullah. Fatimah pon menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah bertanya, mengapakan Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibiril yang sudah bersiap di atas langit menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara yang lemah. "Pintu-2 langit telah terbuka, para-2 malaikat sedang menanti ruhmu. semua syurga terbuka lebar, menanti kedatanganmu." kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega. matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" tanya Rasulullah. "Jangan risau ya Rasulullah aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku ; 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,'" kata Jibril.

Detik detik semakin dekat, saatnya Izrail menjalankan tugas. perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakitnya sakaratul-maut ini" perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan mukanya. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?" tanya Rasulullah kepada malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian, terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit tidak tertahan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian sakaratul-maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jgn pada umatku" badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan terlinganya "peliharalah solat kamu, dan peliharalah orang-2 yang lemah diantara kamu" 

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup tangan di wajahnya dan Ali kembali mendekatkan terlinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummati, ummati, ummati"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. lihatlah wahai sahabatku, betapa cinta dan sayangnya Rasulullah kepada kita, umatnya. di saat akhir kewafatannya baginda masih teringatkan kita, mengkhuatiri kita. ini menunjukkan betapa cintanya baginda terhadap kita. adakah kita, sebagai umatnya turut mencintainya, Rasulullah, kekasih Allah. waktu masih berputar, esok kian mendatang. marilah kita hidupkan sunnah Rasulullah. Sollu 'alan Nabi.

source ;  
CREDIT